Rabu, 19 November 2014


Makalah Ilmu Pendidikan Islam!



PENDIDIK DALAM PERSPEKTIF ISLAM

 












Disusun Oleh:
Nurhidayah /13010101003

JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
SULTAN QAIMUDDIN KENDARI
2014


KATA PENGANTAR



Assalamu ‘alaikum wr.wb.
Syukur alhamdulilah, merupakan satu kata yang sangat pantas penulis ucapkan kepada Allah SWT. Yang karena rahmat dan karunia Nya lah, penulis dapat menyalesaikan penyusunan makalah ini yang berjudul” Kedudukan Pendidik Dalam Perspektif Islam “ untuk memenuhi tugas mandiri mata kuliah “Ilmu Pendidikan Islam“ oleh ibu DR.Hj Hasniati Gani Ali
Penulis menyadari bahwa  makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, tentunya masih banyak kekurangan, baik dari segi materi yang di paparkan maupun dalam kesempurnaan sistematika. Selanjutnya dengan kerendahan hati, penulis berharap kepada pembaca untuk mengoreksi apabila terdapat kesalahan dalam penulisan makalah ini. Oleh karena itu, kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat penulis harapkan, sebagai bekal penyusunan makalah selanjutnya.

Terima kasih, dan semoga makalah ini bisa  memberikan sumbangsih positif bagi kita semua.




                                                                                      Kendari, 29 September 2014
                                                                                                      Penulis


DAFTAR ISI

 

KATA PENGANTAR....................................................................................................................... 1
DAFTAR ISI..................................................................................................................................... 2
BAB I............................................................................................................................................... 3
PENDAHULUAN............................................................................................................................. 3
A. Latar Belakang......................................................................................................................... 3
B. Rumusan Masalah.................................................................................................................... 3
C. Tujuan...................................................................................................................................... 3
BAB II.............................................................................................................................................. 4
PEMBAHASAN................................................................................................................................ 4
A. Pengertian Pendidik Dalam Perspektif Islam............................................................................ 4
B. Tugas Pendidik Dalam Perspektif Islam.................................................................................... 5
C. Kedudukan Pendidik Dalam Perspektif  Islam........................................................................ 11
D. Sifat Pendidik Dalam Pendidikan Islam.................................................................................. 13
E. Syarat Pendidik Dalam Islam.................................................................................................. 14
BAB III........................................................................................................................................... 15
PENUTUP....................................................................................................................................... 15
A.     KESIMPULAN..................................................................................................................... 15
B.     SARAN................................................................................................................................ 15
DAFTAR PUSTAKA...................................................................................................................... 16




 

BAB I

PENDAHULUAN

 

A. Latar Belakang

Tugas utama guru adalah “mendidik, mengajar, membimbing,mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik … “.Demikian bunyi pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Nomor 14/2005tentang Guru dan Dosen. Batasan tugas guru tersebut menunjukkanbahwa sosok guru memiliki peran strategis dalam proses pendidikan,bahkan sumber daya pendidikan lain yang memadai seringkali kurangberarti jika tidak disertai dengan kualitas guru yang bermutu. Dengan kata lain, guru merupakan kunci sukses dan ujung tombak dalam upayameningkatkan kualitas layanan dan hasil pendidikan. Dalam Islam,sosok guru lebih strategis lagi karena di samping mengemban misikeilmuan, guru juga mengemban tugas suci, yaitu misi dakwah danmisi kenabian, yakni membimbing dan mengarahkan peserta didik kerah moralitas yang lebih baik menuju jalan Allah SWT.Tulisan berikut, dengan segala keterbatasannya, akan mengelaborasi seputar kedudukan dan sifat-sifat guru dalam perspektif Islam, khususnya guru pengajar agama, serta tantangan yangdihadapinya.

B. Rumusan Masalah

1. Apa Pengertian Pendidik Dalam Perspektif Islam?
2. Apa Tugas Pendidik Dalam Perspektif Islam?
3. Bagaimana Kedudukan Pendidik Dalam Perspektif Islam?
4. Bagaimana Sifat Pendidik Dalam Perspektif Islam?.
5. Bagaimana Syarat Pendidik Dalam Perspektif Islam?

C. Tujuan

1.Untuk Mengetahui Pengertian Pendidik Dalam Perspektif Islam.
2. Untuk Mengetahui Tugas Pendidik Dalam Perspektif Islam.
3.Untuk Mengetahui Kedudukan Pendidik Dalam Perspektif Islam.
4.Untuk Mengetahui Sifat Pendidik Dalam Perspektif   Islam.
5. Untuk Mengetahui Syarat Pendidik Dalam Pespektif Islam.

 

BAB II

PEMBAHASAN


A. Pengertian Pendidik Dalam Perspektif Islam

            Dalam konteks pendidikan Islampendidik” sering disebut dengan murabbi, mu’allim, mu’addib, mudarris, dan mursyid. menurut peristilahan yang dipakai dalam pendidikan dalam konteks Islam, Kelima istilah ini mempunyai tempat tersendiri dan mempunyai tugas masing-masing.
Murabbi adalah: orang yang mendidik dan menyiapkan peserta didik agar mampu berkreasi serta mampu mengatur dan memelihara hasil kreasinya untuk tidak menimbulkan malapetaka bagi dirinya, masyarakat dan alam sekitarnya.
Mu’allim adalah: orang yang menguasai ilmu dan mampu mengembangkannya serta menjelaskan fungsinya dalam kehidupan, menjelaskan dimensi teoritis dan praktisnya, sekaligus melakukan transfer ilmu pengetahuan, internalisasi serta implementasi.
Mu’addib adalah: orang yang mampu menyiapkan peserta didik untuk bertanggungjawab dalam membangun peradaban yang berkualitas di masa depan.
Mudarris adalah: orang yang memiliki kepekaan intelektual dan informasi serta memperbaharui pengetahuan dan keahliannya secara berkelanjutan, dan berusaha mencerdaskan peserta didiknya, memberantas kebodohan mereka, serta melatih keterampilan sesuai dengan bakat , minat dan kemampuannya.
Mursyid adalah: orang yang mampu menjadi model atau sentral identifikasi diri atau menjadi pusat anutan, teladan dan konsultan bagi peserta didiknya.
Sebagaimana teori Barat, pendidik dalam Islam adalah orang-orang yang bertanggung jawab terhadap perkembangan peserta didiknya dengan upaya mengembangkan seluruh potensi peserta didik, baik potensi afektif (rasa), kognitif (cipta), maupun psikomotorik (karsa).[1]
Pendidik berarti juga orang dewasa yang bertanggung jawab memberi pertolongan pada peserta didiknya dalam perkembangan jasmani dan rohaninya, agar mencapai tingkat kedewasaan, mampu berdiri sendiri dan memenuhi tingkat kedewasaannya, mampu mandiri dalam memenuhi tugasnya sebagai hamba dan khalifah Allah SWT. Dan mampu melaksanakan tugas sebagai makhluk social dan sebagai makhluk individu yang mandiri.[2]
Pendidik pertama dan utama adalah orangtua sendiri. Mereka berdua yang bertanggung jawab penuh atas kemajuan perkembangan anak kandungnya, karena sukses tidaknya anak sangat tergantung kepada pengasuhan, perhatian, dan pendidikannya. Kesuksesan anak kandung merupakan cermin atas kusuksesan orangtua juga. Firman Allah SWT.
 (التحريم) نارا  واهليكم  امنو قوا انفسكم ا الذين ايها يا
“Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”. (QS. At-Tahrim: 6)
Dari hasil telaah terhadap istilah-istilah dan makna guru dalam kajian literatur kependidikan islam,di temukan bahwa guru adalah orang yang memiliki karakteristik sebagai berikut:[3]
1.      Mempunyai komitmen tehadap profesionalitas, yang melekat pada dirinya sikap dedikatif.
2.      Mempunyai komitmen terhadap mutu proses dan hasil kerja, serta sikap contunius improvement.
3.      Menguasai ilmu dan mampu mengembangkan serta menjelaskan fungsinya alam kehidupan.
4.      Mendidik dan menyiapkan peserta didik agar mampu berkreasi, serta mampu mengatur memelihara hasil kreasinya untuk tidak menimbulkan malapetaka bagi peserta didiknya.
5.      Mampu menjadi model atau sentral identifikasi diri, tau menjadi pusat panutan, teladan dan konsultan bagi peserta didiknya.
6.      Memiliki kepekaan intelektual dan informasi, serta memperbaharui pengetahuan dan keahlian secara berkalanjutan dan berusaha mencerdaskan peserta didiknya, memberantas kebodohan serta melatih keterampilan sesuai dengan bakat da minat kemampuannya.
7.      Mampu bertanggung jawab dalam membangun peradaban yang berkuaalitas di masa mendatang.

B. Tugas Pendidik Dalam Perspektif Islam

Dalam Islam, tugas pendidik dipandang sebagai sesuatu yang sangat mulia. Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali mengemukakan bahwa tugas utama Pendidik adalah:[4]
a.Menyempurnakan
b. Membersihkan
c. Menyucikan, serta
d. Membawakan hati manusia untuk bertaqarrub kepada Allah Swt.
            Menurut Ahmad D. Marimba, tugas pendidik dalam pendidikan Islam adalah membimbing dan mengenal kebutuhan atau kesanggupan peserta didik, menciptakan situasi yang kondusif bagi berlangsungnya proses kependidikan, menambah dan mengembangkan pengetahuan yang dimiliki guna ditransformasikan kepada peserta didik, serta senantiasa membuka diri terhadap seluruh kelemahan atau kekurangannya.[5]
            Dalam batasan lain, tugas pendidik dapat dijabarkan dalam beberapa pokok pikiran yaitu:
1)      Sebagai pengajar (instruksional), bertugas merencanakan program yang disusun dan pelaksanaan penilaian setelah program dilaksanakan.
2)      Sebagai pendidik (educator), mengarahkan peserta didik pada tingkat kedasaan kepribadian sempurna (insan kamil), seiring dengan tujuan penciptaan-Nya.
3)      Sebagai pemimpin (managerial) memimpin, mengendalikan diri (baik diri sendiri, peserta didik, maupun masyarakat), upaya pengarahan, pengawasan, pengorganisasian, pengontrolan dan partisipasi atas program yang dilakukan.
Dalam tugas itu, seorang pendidik dituntut untuk mempunyai seperangkat prinsip keguruan. Prinsip keguruan itu dapat berupa:
1. Kegairahan dan kesediaan untuk mengajar seperti memerhatikan: kesediaan, kemampuan, pertumbuhan dan perbedaan peserta didik.
2. Membangkitkan gairah peserta didik
3. Menumbuhkan bakat dan sikap peserta didik yang baik
4. Mengatur proses belajar mengajar yang baik
5. Memerhatikan perubahan-perubahankecendrungan yang mempengaruhi proses mengajar
6. Adanya hubungan manusiawi dalam proses belajar mengajar.


Seorang guru di tuntut untuk mampu mengjarkan kandungan ilmu pengetahuan dan al hikmah( kebijakan) dan kemahiran melaksanakan ilmu pengetahuan itu dalam kehidupannya yang bias mendatangkan manfaat dan berusaha semaksimal mungkin untuk menjauhi mudharat.[6]
Berkaitan dengan tugas guru profesional, al-GhazaliMenyebutkan beberapa hal sebagai berikut
1.      Guru ialah orangtua kedua didepan murid
Seorang guru akan berhasil melaksanakan tugasnya apabila mempunyai rasa tanggung
Jawab dan kasih sayang terhadap muridnya sebagaimana orangtua terhadap anaknya sendiri. Sebuah hadits menyatakan :
            “ Sesungguhnya aku ini bagimu adalah seumpama seorang ayah bagi anaknya.” ( HR. Abu Daud, Nasai, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dari Abu Hurairah )
            Hadits diatas menuntut seorang guru, agar tidak hanya menyampaikan pelajaran semata tetapi berperan sebagai orang tua. Jika setiap orang tua senantiasa memikirkan nasib anaknya agar kelak menjadi manusia yang berhasil, dapat melaksanakan tugas hidupnya, bahagia dunia akhirat, seorang guru pun seharusnya demikian juga perhatiannya terhadap muridnya.
            Persoalannya, interaksi belajar mengajar antara guru dan murid dalam dunia pendidikan dewasa ini kurang mendapat perhatian dari semua pihak. Seorang guru sering tidak mampu tampil sebagai figur yang pantas diteladani dihadapan murid, apalagi berperan sebagai orang tua. Karena itu seringkali guru dipandang dan dinilai oleh muridnya tidak lebih hanya sebagai orang lain yang bertugas menyampaikan materi pelajaran karena dibayar. Kalau sudah demikian, bagaimana mungkin seorang guru dapat membawa, mengarahkan, membimbing dan menunjukkan muridnya kepada pendewasaan diri sehingga menjadi manusia yang mandiri dan bertanggung jawab. Oleh karena itu wahai guru, perhatikan segala persyaratan profesimu, perankanlah dirimu dihadapan anak didikmu sebagai orang tua, junjung tinggilah tugas muliamu jangan sampai lengah menanamkan nilai kepada muridmu.
2.      Guru sebagai pewaris ilmu Nabi
Seorang guru yang mengajarkan ilmu pengetahuan, baik ilmu dunia maupun ilmu
akhirat, harus mengarah kepada tujuan hidup muridnya yaitu mencapai hidup bahagia dunia akhirat. Guru harus membimbing muridnya agar ia belajar karena ijazah semata, hanya bertujuan menumpuk harta, menggapai kemewahan dunia, pangkat dan kedudukan, kehormatan dan popularitas. Dan tugasnya ini akan berhasil apabila dalam mengajar ia berbuat sebagaimana rasul, bukan untuk mencari harta benda dan kemewahan duniawi, melainkan untuk mengharap ridha Allah, ikhlas dalam melaksanakan tugasnya. Seorang guru yang materialistis akan membawa kehancuran baik bagi dirinya sendiri maupun muridnya. Al-Ghazali berkata :
            “Barang siapa mencari harta dengan menjual ilmu, maka ia bagaikan orang yang membersihkan bekas injakan kakinya dengan wajahnya. Dia telah mengubah orang yang memperhamba menjadi orang yang diperhamba dan orang yang diperhamba menjadi orang yang memperhamba”.
            Pernyataan al-Ghazali yang bernada mencela guru yang menuntut upah dari murid tidak harus diartikan bahwa ia melarang guru menerima upah sebagaimana kesimpulan al-Ahwani dalam memandang pendapat al-Ghazali tentang upah bagi seorang guru karena harus mengikuti jejak rasul.
            Memang sebelumnya al-Ghazali berkata :
            “Hendaklah guru mengikuti jejak Rasulullah Saw. Maka ia tidak mencari upah, balasan dan terima kasih. Tetapi mengajar karena Allah dan mencari kedekatan diri kepada-Nya”.
            Pernyataan ini dapat diartikan bahwa guru harus ikhlas. Tetapi kriteria ikhlas itu sendiri bukan hanya bersih dari tujuan lain selain Allah yang bersifat lahir seperti mengajar untuk mendapatkan gaji, misalnya. Lebih dari itu, ikhlas berhubungan dengan niat yang letaknya dalam hati, dan itu merupakan proses panjang, sepanjang usia manusiadalam usahanya menjadikan dirinya menjadi manusia yang sempurna. Sebagaimana dinyatakan al-Ghazali lebih lanjut:
            “Yang disebut khalis atau orang yang ikhlas ialah yang dalam bekerja atau beramal dan semua aktivitas yang bernilai ibadah tidak ada motivasi lain kecuali mencari kedekatan diri kepada Allah”.
            Jadi pada prinsipnya al-Ghazali tidak mengharamkan guru untuk menerima upah. Bahkan jika dikembalikan kepada pernyataan al-Ghazali dan penilaiannya tentang profesi guru, ia dianggap yang paling agung, justru karena tugas mengajarnya itu.
3.      Guru sebagai penunjuk jalan dan pembimbing keagamaan murid
Berdasarkan keikhlasan dan kasih sayangnya, guru selanjutnya berperan sebagai penunjuk jalan bagi murid dalam mempelajari dan mengkaji pengetahuan dalam berbagai disiplin ilmu. Hendaknya seorang guru tidak segan-segan memberikan pengarahan kepada muridnya agar mempelajari ilmu secara runtut, setahap demi setahap. Hal ini mengingat bahwa manusia tidak mampu merangkum ilmu pengetahuan secara serempak dalam satu masa perkembangannya.
            Disamping itu, seorang guru jangan lupa memberi nasihat kepada murid untuk meluruskan niat, bahwa tujuan belajar tidak hanya untuk meraih prestasi duniawi, misalnya agar menjadi kepala instansi atau kepala  bagian pemerintahan, tetapi yang lebih penting adalah untuk mengembangkan ilmu itu sendiri, menyebarluaskannya dan mendekatkan diri kepada Allah. Al-Ghazali berkata :
            “Hendaknya seorang guru tidak lupa sekejap pun memberikan nasihat kepada murid. Yang demikian itu ialah dengan melarangnya mempelajari suatu tingkat sebelum menguasai pada tingkat itu. Dan belajar ilmu yang tersembunyi sebelum selesai ilmu yang terang. Kemudian menjelaskan kepadanya bahwa maksud menuntut ilmu ialah mendekatkan diri kepada Allah. Bukan keinginan menjadi kepala, kemegahan dan perlombaan. Haruslah dikemukakan keburukan sifat-sifat itu sejauh mungkin”.
4.      Guru sebagai sentral figur bagi murid
Al-Ghazali menasihatkan kepada setiap guru agar senantiasa menjadi teladan dan
pusat perhatian bagi muridnya. Ia harus mempunyai karisma yang tinggi. Ini merupakan faktor penting bagi seorang guru untuk membawa murid ke arah mana yang dikehendaki. Disamping itu, kewibawaan juga sangat menunjang dalam perannya sebagai pembimbing dan penunjuk jalan dalam masa studi muridnya. Semua perkataan, sikap dan perbuatan yang baik darinya akan memancar kepada muridnya. Hal ini tidak berarti bahwa guru harus berada jauh dengan siswa. Kembali kepada perannya sebagai orang tua kedua dan sifat kasih sayang yang harus dimilikinya, adalah bijaksana jika seorang guru dalam suasana tertentu berperan sebagai kawan bermain dalam rangka bimbingan ke arah terwujudnya tujuan pendidikan yang dicita-citakan.
            Sebaliknya, jika seorang guru tidak mampu menjadi sentral figur di hadapan siswanya, ia akan kewalahan dan tidak akan memperoleh apa yang diharapkan dari siswanya. Dalam kondisi seperti ini, dimana dalam proses belajar mengajar tidak ada lagi yang dijadikan teladan, usaha pendidikan menggali fitrah atau potensi dasar sebagai sumber daya yang dimiliki manusia terhambat. Jika ini berlangsung sepanjang proses pendidikan, kegagalanlah yang akan diperoleh.
            . Al-Ghazali berkata :
“Guru hendaknya menghardik muridnya dari berperangai jahat dengan cara sindiran dan tidak dengan cara terus terang, tetapi sebaliknya dengan cara kasih sayang, tidak dengan cara mengejek. Sebab kalau dengan cara terus terang, murid akan takut kepada guru, dan mengakibatkan ia berani menentang dan suka sifat yang jahat itu”.
5.      Guru sebagai motivator bagi murid
Sesuai dengan pandangannya terhadap manusia, bahwa manusia tidak mampu merangkum sejumlah ilmu pengetahuan dalam satu masa, al-Ghazali menyarankan kepada guru agar bertanggung jawab kepada salah satu bidang studi saja. Namun demikian, al-Ghazali mengingatkan agar seorang guru tidak mengecilkan, merendahkan apalagi meremehkan bidang studi lain dihadapan murid. Sebaliknya ia harus memberikan peluang kepada murid untuk mengkaji berbagai ilmu pengetahuan. Kalaupun terpaksa harus bertanggung jawab atas beberapa bidang studi, haruslah cermat, memperhatikan kemampuan masing-masing murid, sehingga dapat maju setingkat demi setingkat.Inilah antara lain satu usaha yang dapat mensukseskan tugas seorang guru dalam mengajar, yakni mendorong muridnya agar senang dengan kegiatan belajar..

6.      Guru sebagai seorang yang memahami tingkat perkembangan intelektual murid
Menurut al-Ghazali, usia manusia sangat berhubungan erat dengan dan berpengaruh
terhadap perkembangan intelektualnya. Anak berusia 0 - 6 tahun berbeda tingkat pemahamannya dengan anak berusia 6 - 9 tahun, anak berusia 6 - 9 tahun berbeda dengan anak usia 9 - 13 tahun, dan seterusnya. Atas dasar inilah al-Ghazali mengingatkan agar guru dapat menyampaikan ilmu pengetahuan dalam proses belajar mengajar sesuai dengan tingkat pemahaman murid. Untuk itu, disamping cakap guru juga harus dapat menggunakan metode yang tepat. Al-Ghazali berkata :
“Guru hendaklah merangkumkan bidang studi, menurut pemahaman murid. Jangan diajarkan bidang studi yang belum sampai kesana. Nanti ia lari atau otaknya tumpul”.
7.      Guru sebagai teladan bagi murid
Maka guru sebagai subyek dalam pendidikan yang paling berperan , sebelum melaksanakan tugasnya, yakni mendidik dan mengajar, harus telah menjadi orang yang beriman, bertakwa dan berbudi luhur. Tanpa memenuhi persyaratan ini, mustahil akan terwujud manusia Indonesia seperti dirumuskan diatas sebagai tujuan atau arahan pendidikan nasional. Kiranya tepat apa yang telah dirumuskan dalam Undang-undang Republik Indonesia nomor 2 tahun 1989, bahwa untuk dapat diangkat sebagai tenaga pengajar, tenaga pendidik, ia harus beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Untuk itu wahai guru, amalkan ilmumu jangan berlainan dengan perbuatanmu, ingat dan camkan dua ayat dibawah ini :
 “Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kamu melupakan (kewajiban) mu sendiri ... (QS. Al-Baqarah: 4
 “Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan”.(QS. Ash-Shaf: 3)
Berkaitan dengan hal tersebut di atas, tamsil berikut ini memberikan kejelasan bagi
Kita seperti dikatakan oleh al-Ghazali:
“Hendaklah guru mengamalkan ilmunya, jangan perkataannya membohongi perbuatannya... perumpamaan guru yang membimbing murid adalah bagaikan ukiran dengan tanah liat, atau bayangan dengan tongkat. Bagaimana mungkin tanah liat dapat terukir sendiri tanpa alat untuk mengukirnya, bagaimana mungkin bayangan akan lurus kalau tongkatnya bengkok”.

C. Kedudukan Pendidik Dalam Perspektif  Islam

Allah Swt berfirman ;
 درجات اوتوالعلم والذين  منكم امنوا الذين الله يرفع
Artinya: “ ... Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berilmu pengetahuan beberapa derajat”. (QS. Al-Mujadalah: 11)

Kedudukan guru dalam Islam sangat istimewa. Banyak dalil naqli yang menunjukkan hal tersebut. Misalnya Hadits yang diriwayatkan Abi Umamah berikut :

 “Sesungguhnya Allah, para malaikat, dan semua makhluk yang ada di langit dan di bumi, sampai semut yang ada di liangnya dan juga ikan besar, semuanya bersalawat kepada mu’allim yang mengajarkan kebaikan kepada manusia (HR. Tirmidzi).”
Tingginya kedudukan guru dalam Islam, menurut Ahmad Tafsir, tak bisa dilepaskan dari pandangan bahwa semua ilmu pengetahuan bersumber pada Allah, sebagaimana disebutkan dalam Surat al-Baqarah ayat 32:


. (32 :ألبقرة)الحكيم العليم أنت إنك علمتنا ما إلالنا علم لا سبحانك قالوا

 “Mereka menjawab, “Mahasuci Engkau, tidak ada pengetahuan bagi kami selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui (lagi) Maha Bijaksana.”[7]
Karena ilmu berasal dari Allah, maka guru pertama adalah Allah. Pandangan demikian melahirkan sikap pada orang Islam bahwa ilmu itu tidak terpisah dari Allah, ilmu tidak terpisah dari guru. Dengandemikian, kedudukan guru amat tinggi dalam Islam. Alasan lain mengapa guru mendapat kedudukan mulia dalam Islam adalah terkait dengan kewajiban menuntut ilmu bagi setiap muslim. Proses menuntut ilmu berlangsung di bawah bimbingan guru. Tanpa guru, sulit rasanya peserta didik bisa memperoleh ilmu secara baik dan benar. Itulah sebabnya, kedudukan guru sangat istimewa dalam Islam. Bahkan dalamtradisi tasawuf/tarekat, dikenal ungkapan, “siapa yang belajar tanpa guru, maka gurunya adalah setan”. Al-Ghazali menggambarkan kedudukan guru agama sebagai berikut: ”Makhluk di atas bumi yang paling utama adalah manusia, bagian manusia yang paling utama adalah hatinya. Seorang guru sibuk menyempurnakan, memperbaiki, membersihkan dan mengarahkannya agar dekat kepada Allah azza wajalla. Maka mengajarkan ilmu merupakan ibadah dan merupakan pemenuhan tugas dengan khalifah Allah. Bahkan merupakan tugas kekhalifahan Allah yang paling utama.
Sebab Allah telah membukakan untuk hati seorang alim suatu pengetahuan, sifat-Nya yang paling istimewa. Ia bagaikan gudang bagi benda-benda yang paling berharga. Kemudian ia diberi izin untuk memberikan kepada orang yang membutuhkan. Maka derajat mana yang lebih tinggi dari seorang hamba yang menjadi perantara antara Tuhan dengan makhluk-Nya daam mendekatkan mereka kepada Allahdan menggiring mereka menuju surga tempat peristirahatan abadi.” Lebih lanjut al-Gazâlî mengatakan “… orang tua penyebab wujud kekinian dan kehidupan yang fana, sedang guru penentu kehidupanyang abadi.” Dengan ungkapan senada, Ikhwân al-Ṣafâ berkata “…guru telah mengisi jiwamu dengan ragam pengetahuan dan membimbingnya ke jalan keselamatan dan keabadian, seperti apa yang telah dilakukan kedua orang tuamu yang menyebabkan tubuhmu terlahir ke dunia, mengasuhmu dan mengajarimu mencari nafkah hidup di duniafana ini”.
Kedudukan guru yang istimewa, ternyata berimbang dengan tugas dan tanggungjawabnya yang tidak ringan. Seorang guru agama bukan hanya sekedar sebagai tenaga pengajar, tetapi sekaligus sebagai pendidik. Dengan kedudukan sebagai pendidik, guru berkewajiban untuk mewujudkan tujuan pendidikan Islam, yaitu mengembangkan seluruh potensi peserta didik agar menjadi muslim sempurna. Untuk mencapai tujuan ini, guru harus berupaya melalui beragam cara seperti; mengajar, melatih, membiasakan, memberi contoh, memberi dorongan, memuji, menghukum, dan bahkan mendoakan. Cara-cara tersebut harus dilakukan secara sungguh-sungguh dan konsisten. Suatu tugas yang sangat berat.
Pendidik adalah spiritual father (bapak rohani), bagi peserta didik yang memberikan santapan jiwa dengan ilmu, pembinaan akhlak mulia, dan meluruskan perilakunya yang buruk. Oleh karena itu, pendidik memiliki kedudukan tinggi. Dalam beberapa Hadits disebutkan: “Jadilah engkau sebagai guru, atau pelajar atau pendengar atau pecinta, dan Janganlah engkau menjadi orang yang kelima, sehingga engkau menjadi rusak”. Dalam Hadits Nabi SAW yang lain: “Tinta seorang ilmuwan (yang menjadi guru) lebi berharga ketimbang darah para syuhada”. Bahkan Islam menempatkan pendidik setingkat dengan derajat seorang Rasul. Al-Syawki bersyair:[8]
“Berdiri dan hormatilah guru dan berilah penghargaan, seorang guru itu hampir saja merupakan seorang Rasul”.
Al-Ghazali menukil beberapa Hadits Nabi tentang keutamaan seorang pendidik. Ia berkesimpulan bahwa pendidik disebut sebagai orang-orang besar yang aktivitasnya lebih baik daripada ibadah setahun (perhatikan QS. At-Taubah:122).selanjutnya Al-Ghazali menukil dari perkataan para ulama yang menyatakan bahwa pendidik merupakan pelita segala zaman, orang yang hidup semasa dengannya akan memperoleh pancaran cahaya keilmiahannya. Andaikata dunia tidak ada pendidik, niscaya manusia seperti binatang, sebab: pendidikan adalah upaya mengeluarkan manusia dari sifat kebinatangan (baik binatang buas maupun binatang jinak)  kepada sifat insaniyah dan ilahiyah.

D. Sifat Pendidik Dalam Pendidikan Islam.

Al-Gazâlî menyebut beberapa sifat yang harus dipenuhi guru, yaitu : kasih sayang dan lemah lembut, tidak mengharap upah,pujian, ucapan terima kasih atau balas jasa ; (c) jujur dan terpercayabagi murid-muridnya; (d) membimbing dengan kasih sayang, tidak
dengan marah, luhur budi dan toleransi, tidak merendahkan ilmu lain di luar spesialisasinya memperhatikan perbedaanindividu; dan konsisten.Abd al-Raḥman al-Naḥlâwî menyebutkan beberapa sifat yang harusdimiliki para pendidik, yaitu;bersifat rabbâni, yaitu semua aktifitas, gerak dan langkah, niat dan ucapan, sejalan dengan nilai-nilai Islam, ikhlas, penyabar, jujur, terutama adanya kesamaan antara yang disampaikan (kepada murid) dengan yang dilakukan, selalu berusaha meningkatkan ilmu dan terus mengkajinya, menguasai berbagai metode mengajar dan mampu memilih metode yang sesuai,  mampu mengelola murid, tegas dalam bertindak serta meletakkan berbagai perkara secara proporsional,  memahami perkembangan psikis anak, tanggap terhadap berbagai kondisi dan perkembangan dunia yang mempengaruhi jiwa, keyakinan dan pola berpikir angkatan muda; dan bersikap adil dalam menghadapi murid.
Menurut Asma Hasan Fahmi, sifat-sifat yang harus dimiliki pendidik adalah,:tidak boleh mengharapkan upah dan imbalan materi dari pekerjaan mengajar, karena tujuan mengajar tidak lain untuk mengharap ridla Allah,guru harus lebih dahulu membersihkan anggota badan dari dosa-dosa;, harus sesuai antara perkataan dan perbuatan; rendah hati dan tidak perlu malu dengan ucapan “tidak tahu”;  harus pandai menyembunyikan kemarahan, dan menampakkan kesabaran, hormat, lemah lembut, kasih sayang dan tabah unuk mencapai sesuatu keinginan. Al-Qalqasyandî menyebut sifat-sifat yang harus dimiliki guru adalah ; (a) sehat akalnya, (b) memiliki pemahaman yang tajam, (c) beradab, (d) adil, (e) bersifat perwira, (f) lurus dada, (g) bila berbicara artinya lebih dahulu terbayang dalam hatinya, (h) perkatannya jelas,
dan mudah dipahami dan berhubungan satu dengan yang lain, (i) memilih perkataan-perkataan yang mulia dan baik, (j) menjauhi sesuatu yang membawa kepada perkataan yang tak jelas.             Sedangkan Ikhwân al-Ṣafâ menyebut sifat-sifat yang harus dimiliki guru adalah; (a) cerdas, (b) dewasa, (c) lurus moralnya, (d) tulus hatinya, (e) jernih pikirannya,(f) memiliki etos keilmuan, dan (g) tidak fanatik buta.

E. Syarat Pendidik Dalam Islam


Ikhwan al-Shafa menempatkan pendidik (guru) pada posisi strategis dan ini dalam kegiatan pendidikan mereka mempersyaratkan kecerdasan kedewasaan, ketulusan moral, ketulusan hati, kejernihan pikiran, etos keilmuan dan tidak fanatik buta pada diri pendidik.
Dilihat dari ilmu pendidikan Islam maka secara umum untuk menjadi guru yang baik dan diperkirakan dapat memenuhi tanggung jawab yang dibebankan kepadanya hendaknya bertakwa kepada Allah, berilmu, sehat jasmaniyahnya, baik akhlaknya bertanggung jawab dan berjiwa nasional.
1.    Takwa kepada Allah sebagai syarat menjadi guru
Guru sesuai dengan tujuan ilmu pendidikan Islam tidak mungkin mendidik anak agar bertakwa kepada Allah SWT jika ia sendiri tidak bertakwa kepadanya. Sebab ia adalah teladan bagi muridnya sebagaimana Rasulullah SAW menjadi teladan bagi umatnya.
2.    Berilmu sebagai syarat untuk menjadi guru
Ijazah bukan semata-mata secarik kertas, tetapi suatu bukti bahwa pemiliknya telah mempunyai ilmu pengetahuan dan kesanggupan tertentu yang diperlukannya untuk suatu jabatan
3.    Sehat jasmani
Kesehatan jasmani kerap kali dijadikan salah satu syarat bagi mereka yang melamar untuk menjadi guru. Guru yang mengidap penyakit menular umpamanya sangat membahayakan kesehatan anak-anak. Disamping itu guru yang berpenyakit tidak akan bergairah mengajar. Kita kenal ucapan “mensana in corporesano”, yang artinya dalam tubuh yang sehat terkandung jiwa yang kuat.
4.    Berkelakuan baik
Budi pekerti guru maha penting dalam pendidikan watak murid.  Guru harus menjadi suri tauladan, karena anak-anak bersifat suka meniru. Di antara tujuan pendidikan ialah membentuk akhlak baik pada anak dan ini hanya mungkin jika guru itu berakhlak baik pula. Guru yang tidak berakhlak baik tidak mungkin dipercayakan pekerjaan mendidik.
















BAB III

PENUTUP

 



A.    KESIMPULAN


Dalam konteks pendidikan Islampendidik” sering disebut dengan murabbi, mu’allim, mu’addib, mudarris, dan mursyid. menurut peristilahan yang dipakai dalam pendidikan dalam konteks Islam, Pendidik dalam Islam adalah orang-orang yang bertanggung jawab terhadap perkembangan peserta didiknya dengan upaya mengembangkan seluruh potensi peserta didik, baik potensi afektif (rasa), kognitif (cipta), maupun psikomotorik (karsa).

Dalam Islam, tugas pendidik dipandang sebagai sesuatu yang sangat mulia. Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali mengemukakan bahwa tugas utama Pendidik adalah: Menyempurnakan, Membersihkan,Menyucikan, serta, Membawakan hati manusia untuk bertaqarrub kepada Allah Swt.
 Kedudukan guru dalam Islam sangat istimewa.
Al-Gazâlî menyebut beberapa sifat yang harus dipenuhi guru, yaitu : kasih sayang dan lemah lembut, tidak mengharap upah,pujian, ucapan terima kasih atau balas jasa ; (c) jujur dan terpercayabagi murid-muridnya, membimbing dengan kasih sayang, tidak dengan marah, luhur budi dan toleransi, tidak merendahkan ilmu lain di luar spesialisasinya memperhatikan perbedaanindividu; dan konsisten, cerdas, dewasa, lurus moralnya,tulus hatinya, jernih pikirannya, memiliki etos keilmuan, dan  tidak fanatik buta.

Syarat pendidik dalam islam :takwa kepada allah, berilmu, sehat jasmani dan berkelakuan baik.


B.     SARAN


Dalam penyusunan makalah ini, tentu masih banyak terdapat kekurangan, baik berupa kekurangan isi makalah maupun ketidaksempurnaan bahasanya. Oleh karena itu kritik dan saran dari pembaca sangat penulis harapkan, sebagai bekal penyusunan makalah berikutnya.


DAFTAR PUSTAKA


Tafsir,Ahmad, 1992, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, Bandung: Remaja Rosdakarya.

Uhbiyati, Nur,1996, Ilmu Pendidikan Islam, Bandung: Pustaka Setia.

Muhaimin, 2009, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam, Jakarta:PT RajaGrafindo persada.

Gani A, Hasniyati, 2008, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta:Quantum Teaching.

Shaleh, Abdul Rahman. 2006, Pendidikan Agama & pembangunan watak bangsa. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada





[1] Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1992),  h. 74-75.
[2]  Suryosubrata B., Beberapa Aspek Dasar Kependidikan, (Jakarta: Bina Aksara, 1983), h.26.
[3] Hasniyati Gani A, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta:Quantum Teaching,2008), h.102-103.
[4] Arifuddin Arif, Pengantar Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kultura (GP Press Group),  2008),  h.64.
[5] Ahmad D. Marimba, Op Cit,  39.
[6] Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam ,(Jakarta:pt rajaGrafindo persada,2009)h.45.
[7] Quraisy Shihab, Tafsir al-Misbah Volume 1, (Jakarta : Lentera Hati, 2003), hlm. 143.

[8]M. Athiyah al-Abrasyi, Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam, terj..Bustami A. Ghani, (Jakarta: Bulan Bintang, 1987), h. 135-136

Tidak ada komentar:

Posting Komentar